Home » » Keajaiban Berbagi

Keajaiban Berbagi

Written By fajar007.blogspot.com on Senin, 23 Januari 2017 | 10.00

Apa yang kita rasakan ketika sedang berbagi kepada orang lain, apa pun bentuk atau barang yang kita beri? Senang, bahagia, atau adakah yang merasa terpaksa?
Sebenarnya, dalam konteks sosial, berbagi ini menjadi sebuah bagian yang tak bisa lepas secara kodrati. Sejak lahir, kita sudah merasakan keindahan dari berbagi. Kasih sayang dari orangtua, kecintaan dari orang sekitar, hingga beragam bentuk berbagi yang telah kita terima membuat kita tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, disadari atau tidak, kita pun sudah berbagi sejak lahir. Memberikan kebahagiaan kepada orangtua dengan kehadiran kita sebagai anak, membuat orang gemas dengan kelucuan kita sebagai anak kecil.

Begitu menginjak usia lebih matang, kita mulai mengenal konsep berbagi dalam wujud materi. Uang receh yang kita masukkan di kotak amal, kita berikan kepada yang berhak, atau sekadar memberi kado pada teman yang ulang tahun menjadi kebiasaan berbagi yang ditanamkan sejak dini. Selain itu, konsep berbagi dengan saling membantu pun selalu kita dengar dan lihat dalam praktik kehidupan sehari-hari. Sehingga, bisa dikatakan, sejak lahir hingga mungkin saat ini—disadari atau tidak—kita tak pernah lepas dari konsep berbagi.

Namun memang, seiring dengan pertumbuhan dan pengaruh lingkungan, ada pula yang kemudian “menipiskan” konsep berbagi ini. Bahwa, berbagi harus dengan materi, harus dengan uang. Akibatnya, tak jarang, rasa kepemilikan yang tinggi membuat orang ada yang merasa “terpaksa” saat harus mengeluarkan sedikit “jatah” rezekinya untuk diberikan kepada orang lain yang lebih berhak.

Padahal sejatinya, konsep berbagi adalah “hukum” alam yang membuat kita akan selalu hidup penuh keberkahan. Dalam sejarah, tak ada orang yang jatuh miskin hanya karena sering menyumbang. Bahkan sebaliknya. Seperti Warren Buffett yang menyumbangkan hampir seluruh hartanya—tercatat di buku rekor dunia sebagai bentuk sumbangan terbesar di dunia—namun dalam waktu singkat, ia kembali menduduki posisi orang terkaya di dunia.

Maka, sangat tepat kiranya, jika kita menjadikan kebiasaan berbagi menjadi salah satu “agenda” utama untuk kita praktikkan dalam keseharian kita. Ini bukan semata untuk menjadikan kita “sukses”, tapi akan membuat hidup sepanjang tahun—dan seterusnya—akan lebih penuh keberkahan dan kebaikan.

Ada sebuah kisah nyata yang barang kali sudah dituturkan dalam berbagai versi. Namun, saya rasa, kisah ini masih sangat relevan untuk membuat kita sadar akan pentingnya berbagi. Simak kisahnya di sini. Inilah gambaran “hukum alam” tentang kekuatan berbagi. 

Pria yang membantu ibu dengan mobil mogok, ternyata mendapat “balasan” biaya untuk membantu istrinya melahirkan.

Begitulah, konsep berbagi punya banyak arti. Bahkan, secara keilmuan pun, banyak yang sudah melakukan penelitian tentang dampak positifnya. Misalnya, seperti penelitian yang pernah dimuat di jurnal ilmiah Science, disebutkan seorang peneliti bernama Elizabeth W. Dunn, dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menemukan fakta bahwa membelanjakan uang untuk orang lain dapat meningkatkan kebahagiaan.

Bukan itu saja. Sebuah tulisan di majalah American Health yang saya temukan di internet, menyebutkan sebuah penelitian di Michigan Amerika. Di sana, orang yang memiliki kebiasaan bekerja sukarela—seperti acara gotong royong di sini—punya harapan hidup lebih lama. Dibanding yang jarang bekerja sukarela, tingkat hidupnya lebih panjang hingga dua setengah kali!

Sungguh, inilah “keajaiban” berbagi yang sangat berarti. Mari, tingkatkan kebiasaan berbagi. Maka, hidup akan jauh lebih bernilai.
Salam hangat luar biasa!

(sumber :http://www.andriewongso.com/keajaiban-berbagi/)
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2017. Berbagi Wacana - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
Partnership Albaypulsa | Arzadia